Pengertian dan Asal-Usul Rabu Wekasan, Benarkah Dianggap Sebagai Hari Penuh Bala dan Musibah?



Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan mungkin merupakan istilah asing bagi sebagian orang.

Rebo Wekasan biasanya kental dengan kepercayaan masyarakat Jawa dan Arab Kuno.

Masyarakat yang masih memegang kental tradisi Kejawen mengartikan Rabu Wekasan sebagai Rabu datangnya musibah.

Rebo Wekasan berada di bulan Safar. Bulan Shafar merupakan salah satu bulan dalam kalender Hijriah, berdasarkan penanggalan Qamariyyah.

Dalam artikel ini akan dijelaskan pengertian dan asal-usul dari istilah Rabu Wekasan.

Dilansir JatimNetwork.com dari artikel di KabarLumajang.com berjudul "Apa Itu Rabu Wekasan? Inilah Arti dan Makna dari Rabu Wekasan yang Sebenarnya", inilah pengertian dari Rabu Wekasan.

Hari Rabu, adalah nama salah satu hari dalam seminggu. Rabu Wekasan diambil dari bahasa Jawa. Rabu atau Rebo artinya hari Rabu dan wekasan artinya terakhir.

Lalu Rebo Wekasan merupakan hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Sedangkan bulan Safar terletak setelah bulan Muharram, sebelum bulan Rabi’ al-Awwal.

Sebagian orang Arab menyebut bulan Shafar dengan sebutan najiz, mereka merasa sial dengan bulan tersebut.

Adapun pengertian dari Rebo Wekasan adalah acara ritual yang biasa dilakukan sebagian masyarakat pada hari Rabu akhir bulan Safar karena menurut persepsi mereka saat itu adalah saat petaka.

Rebo Wekasan juga bisa diartikan sebagai tradisi ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Tujuannya guna memohon perlindungan kepada Allah SWT. dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut.

Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya.

Makna dari acara ritual Rebo Wekasan yaitu untuk selalu berdoa dan memohon perlindungan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid" (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi).

Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: "Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa salah seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir bulan Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 macam bala’ dalam satu malam.

Oleh karena itu, beliau menyarankan umat Islam untuk shalat dan berdoa memohon agar dihindarkan dari bala’ tersebut. Tata-caranya adalah shalat 4 rakaat.

Setiap rakaat membaca surat al Fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas 1 kali.

Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca sebanyak 3 kali. Waktunya dilakukan pada pagi hari (waktu Dhuha).

Jadi melalui penjelasan di atas, terdapat amaliyah yang biasa dilaksanakan saat Rebo Wekasan yaitu shalat, dzikir, doa, dan tabarruk dengan asma Allah atau ayat-ayat al-Quran.

Amaliyah tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar terhindar dari segala macam musibah dan cobaan.

Itulah penjelasan mengenai pengertian dan asal-usul Rabu Wekasan

Pengertian dan Asal-Usul Rabu Wekasan, Benarkah Dianggap Sebagai Hari Penuh Bala dan Musibah? Pengertian dan Asal-Usul Rabu Wekasan, Benarkah Dianggap Sebagai Hari Penuh Bala dan Musibah? Reviewed by Thur Vans on September 15, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.